Tampilkan postingan dengan label QUOTE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label QUOTE. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 November 2011

Postingan ini diambil dari post nya Bapak Mario Teguh di facebook nya.

------------------------------------------------------------------------------------
Engkau yang galau karena kepalsuan dari janji cinta, dengarlah ini ya?

Sadarilah bahwa luka hatimu itu hanya sedalam cintamu, dan kualitas cintamu seharusnya setinggi nilai dari orang yang kau cintai.

Bagaimana mungkin engkau menyerahkan seindah-indahnya cintamu kepada orang yang tidak jujur dan palsu?
Dan bagaimana mungkin engkau berharap kepada orang yang sampai hati membuatmu bersedih dan menangis?

Maka alihkanlah arah cintamu dari orang yang tidak baik bagimu itu, kepada kebutuhan dirimu untuk tampil menarik bagi cinta yang baru, yang sesuai dengan kebaikan hati dan pekertimu.

Dan bisikkanlah kepada Tuhanmu …

Wahai Yang Maha Lembut,

Selamatkan dan pulihkanlah hatiku dari kepedihan ini, mudahkanlah aku melihat keaslian dari keburukannya, damaikanlah aku karena pelajaran dari kepalsuan ini, dan pendarkanlah sinar cinta-Mu pada pribadi dan perilakuku, agar aku menjadi satu-satunya tujuan cinta bagi pribadi baik yang Kau hadiahkan kepadaku sebagai belahan jiwaku.

Wahai Yang Maha Cinta,

Temukanlah aku dengan belahan jiwaku, dan utuhkanlah keindahan hidupku bersamanya dalam pernikahan yang damai, penuh kasih, lembut memperlakukan satu sama lain, dan yang setia dalam kemudahan atau dalam kesulitan.

Aamiin

Senin, 29 November 2010

KUPU-KUPU

Mencari kebahagiaan sama halnya dengan menangkap kupu-kupu. Akan terasa sulit bagi mereka yang terlalu bernafsu. Tapi, sangat mudah bagi yang tau apa yang mereka cari. Kita mungkin bisa mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini. Kita bisa saja mengejarnya dengn berlari kencang ke seluruh penjuru arah. Kita pun bisa meraihnya dengan bernafsu seperti menangkap buruan yang bisa kita santap setelah mendapatkannya.

Namun, kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tidak bisa didapat dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat digenggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara. Kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.

Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hati kita. Biarkan rasa itu menetap dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita, dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi, dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.

Bahagia itu ada di mana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.

*Diambil dari buku "Kekuatan Cinta" oleh Irfan Toni Herlambang

WARNA

Kita seringkali seperti dua anak kecil yang berselisih paham. Kita sering berseteru, bermusuhan, dan tidak pernah akur dalam banyak hal, dalam banyak situasi. Sayangnya, kita sering pula nggak tidak mau mengalah, tak mau memahami, tak mau mengerti, dan tak mau mendengarkan "suara" orang lain. Kita sering berpatokan pada diri sendiri dan menganggap semua pendapat kita adalah benar adanya.

Memang, nggak ada kata keliru untuk berbeda pendapat. Nggak ada yang salah dengan keragaman. Namun, agaknya kita harus lebih sering untuk bersatu dalam beberapa saat. Kita harus lebih sering untuk mau mengerti, mau memahami, dan mau mendengarkan orang lain. Kita harus lebih sering untuk mau "mengintip" ruangan lain, sebelum kita mulai "menyebutkan warna".

Kadang, kita terlalu tinggi hati untuk mengakui kebenaran orang lain. Kita enggan untuk menyetujui pendapat mereka. Bukan karena pendapat mereka yang salah, tetapi karena kita tidak mau merasa dikalahkan. Kita sering terpesona dengan rasa picik dan tak suka jika ada orang yang lebih baik. Kita memilih untuk tetap berpatokan pada diri sendiri dan membenarkan semua langkah yang kita perbuat.

Kebenaran akan selalu ada jika kita memandang dengan cara yang berbeda, persepsi yang berbeda, dan sudut pandang yang berbeda. Sebab, tak akan ada kebenaran yang hakiki, kecuali milik Illahi Rabbi.

Jadi, cobalah untuk memahami persepsi orang lain sebelum kita berselisih paham.

*Diambil dari buku "Kekuatan Cinta" oleh Irfan Toni Herlambang

MAWAR

Di dalam setiap jiwa selalu ada "mawar" yang tertanam. Allah menitipkannya kepada kita untuk dirawat. Allah lah yang meletakkan kemuliaan itu di setiap kalbu kita. Seperti halnya taman-taman berbunga, di dalam jiwa kita juga ada tunas mawar dan duri yang akan merekah.

Namun sayang, banyak dari kita yang hanya melihat "duri" yang tumbuh. Banyak dari kita yang hanya melihat sisi buruk diri kita yang akan berkembang. Kita sering menolak keberadaan kita sendiri. Kita sering kecewa dengan diri kita dan tidak mau menerimanya. Kita berpikir bahwa hanya hal-hal yang hanya melukai yang akan tumbuh dari kita. Kita menolak untuk "menyirami" hal-hal baik yang sebenarnya telah ada. Dan akhirnya, kita kembali kecewa. Kebanyakan dari kita tidak pernah memahami potensi yang kita miliki.

Banyak orang yang tidak menyangka, mereka sebenarnya juga memiliki mawar yang indah di dalam jiwa. Banyak orang yang tidak menyadari adanya mawar itu. Kita sering disibukkan dengan duri-duri kelemahan diri dan pesimisme dalam hati ini. Orang lain yang malah terkadang harus menunjukkannya.

Jika kita bisa menemukan "mawar-mawar" indah yang tumbuh dalam jiwa itu, kita akan dapat mengabaikan duri-duri yang muncul. Kita akan terpacu untuk membuatnya merekah dan terus merekah hingga berpuluh-puluh tunas baru akan muncul. Pada setiap tunas itu akan berbuah tunas-tunas kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, yang akan memenuhi taman-taman jiwa kita. Kenikmatan yang terindah adalah saat kita berhasil untuk menunjukkan diri kita tentang mawar-mawar itu dan mengabaikan duri-duri yang muncul.

Semerbak harumnya akan menghiasi hari-hari kita. Aroma keindahan yang ditawarkannya adalah layaknya ketenangan air telaga yang menenangkan keruwetan hati. Temukanlah "mawar-mawar" ketenangan, kebahagiaan dan kedamaian dalam jiwa-jiwa kita. Mungkin kita akan bertemu dengan duri, tapi janganlah itu membuat kita berputus asa. Mungkin tangan-tangan kita akan tergores dan terluka, tapi janganlah itu membuat kita bersedih.

Biarkan mawar-mawar indah itu merekah dalam hati kita. Biarkan kelopaknya memancarkan cahaya kemuliaan-Nya. Biarkan tangkai-tangkainya memegang teguh harapan dan impianmu. Biarkan putik-putik yang dikandungnya menjadi bibit dan benih kebahagiaan baru bagimu. Sebarkan tunas-tunas itu kepada setiap orang yang kita temui, dan biarkan mereka juga menemukan keindahan mawar-mawar lain dalam jiwa mereka. Sampaikan salam-salam itu agar kita dapat menuai bibit-bibit mawar cinta itu kepada setiap orang dan menumbuhkembangkannya di dalam taman-taman hati kita.


*Diambil dari buku "Kekuatan Cinta" oleh Irfan Toni Herlambang

Kamis, 23 September 2010

DUA EKOR SINGA

Setiap diri kita punya dua ekor ‘singa’ yang selalu bersaing. Keduanya selalu berusaha untuk saling menjatuhkan. Mereka berusaha untuk menjadi pemimpin bagi yang lainnya. Pertarungan di antara mereka tak pernah tuntas karena selalu saja terjadi pergiliran kemenangan. Kalah-menang dalam persaingan itu layaknya mata koin yang selalu berganti-ganti. Dan kita sering dibuat bingung, sebab kedua kekuatan baik-buruk ini terlihat sama kuatnya.

Tapi, siapakah pemenangnya saat ini dalam diri kita? Singa yang kokoh dengan bulu yang teratur ataukah singa yang berbulu koyak dan menakutkan? Lalu, singa macam apa yang kini sedang menguasai kita? “Singa” yang optimis, pantang menyerah, tekun, sabar, damai, rendah hati, dan toleran; ataukah “singa” yang pesimistis, tertekan, mudah menyerah, sombong dan penuh dengki?

Kita sendirilah yang menentukan kemenangan bagi kedua singa-singa itu. Jika kita sering memberi “makan” pada singa yang damai tadi, maka imbalan kebaikanlah yang akan kita dapatkan. Jika kita terbiasa untuk memupuk optimism dan pantang menyerah, maka “singa” keberhasilanlah yang akan kita peroleh. Namun sebaliknya, jika setiap saat kita memendam marah, menebar prasangka dan dengki, bersikap tak sabar dan mudah menyerah, maka akan jelaslah “singa” macam apa yang jadi pemenangnya.

Biarkan “singa-singa” penuh semangat hadir dalam jiwa kita. Rawatlah singa-singa itu dengan keluhuran budi, dan kebersihan nurani. Susunlah bulu-bulu kedamaiannya, cermati terus rahang persahabatannya. Perkuat punggung optimismenya, dan pertajam selalu kuku-kuku kesabaran miliknya. Biarkan singa ini yang jadi pemenang.

Namun, jangan biarkan “singa-singa” pemarah menguasai pikiran kita. Jangan pernah berikan kesempatan bagi kedengkian itu untuk membesar dan menjadi penghalang keberhasilan. Jangan biarkan rasa pesimis, jiwa yang gundah, tak sabar, dan rendah diri menjadi pemimpin bagi kita.

Imbalan yang kita peroleh adalah gambaran dari apa yang kita berikan hari ini. Lalu, singa mana yang akan kita beri makan hari ini?

*Dikutip dari buku “Kekuatan Cinta” , karangan Irfan Toni Herlambang

KEKUATAN CINTA

Burung tak pernah diajari untuk terbang dan ikan tak pernah belajar untuk berenang. Semuanya alami. Semua berasal dari naluri. Hal itu akan hadir pada setiap makhluk yang percaya akan kebesaran Allah. Hanya Allah lah yang memberikan kita kekuatan itu.

Cinta memberi kekuatan. Bahkan cinta adalah kekuatan itu sendiri. Cinta seorang ibu adalah naluri dan alami. Sesuatu yang hadir dalam jiwa-jiwa yang penuh rasa cinta. Setiap ibu, tak akan pernah diajari bagaimana mengasihi buah hatinya. Rasa itu akan hadir dengan sendirinya. Kita pun punya rasa itu. Asal kita mau menjalani semua garis-garis yang telah ditentukan-Nya.

*Dikutip dari buku “Kekuatan Cinta” , karangan Irfan Toni Herlambang

PASIR DAN BATU

Kesedihan dan kebahagiaan selalu hadir. Berselang-seling mewarnai panjangnya hidup ini. Keduanya pasti akan selalu tersimpan di memori pikiran dan hati kita. Namun, mampukah kita menuliskan setiap kesedihan di pasir agar angin keikhlasan membawanya pergi? Dan bisakah kita tegar melepaskan setiap kesusahan bersama terbangnya angin ketulusan?

Cobalah untuk selalu mengingat setiap kebaikan dan kebahagiaan yang kita miliki. Simpanlah semua itu di dalam kekokohan hati kita agar tak ada yang mampu menghapusnya. Torehkan kenangan bahagia agar tak ada angin kesedihan yang mampu melenyapkannya. Insya Allah, dengan begitu kita akan selalu optimis dalam mengarungi panjangnya hidup ini.

*Dikutip dari buku “Kekuatan Cinta” , karangan Irfan Toni Herlambang