Minggu, 05 Juli 2020

3 YEARS LATER

Hollaaaa
Halooooo
Haaaiiiiiiii
Udah nggak ada yang baca blog ini lagi kayaknya. Hahaha

I'm back
Finally after 2 years

Mungkin kalau baru liat blog ini lagi sekarang, post terakhir itu di 2017. Sebenarnya post terakhir itu 2018. Tapi karena satu dan lain hal, tadi malam ada beberapa post yang perlu dibersihkan. Jadi ya begitulah

Demi kesehatan jiwa dan raga, postingan masa-masa galau bin alay sudah dihapus. Sumpah malu bacanya. Merinding sendiri. Hahaha. Tapi masih banyak juga kok yang masih aman. Karna ya emang nggak ngebuat merinding disko bacanya.

This blog is like my time machine. Kalau dulu waktu SMP sampai SMA aku masih pakai diary buat cerita apa aja, semenjak kuliah mulai beralih ke blog. Jadi ya hampir semua cerita masa lalu masih akan sangat teringat kembali kalau dibaca dari awal. Aku sampai beberapa kali ngomong sendiri,
"Sumpah ini kapan? kok aku nggak ingat pernah gini."
"Serius ada kejadian kayak gini?"
"Ini aku lagi kenapa coba kok galau gitu?"
"Sumpah ini bukan aku!"
"Aku ternyata pernah dekat sama dia, mereka?"
"Ternyata aku pernah ke sini"

Jadi ceritanya, tadi malam pas lagi nyari sesuatu di internet, kebuka blog seseorang yang sama sekali aku nggak kenal, terus kepikiran, "aku kan punya blog ya, apa kabarnya sekarang?"
Dan kemudian berlanjutlah time traveling ku sampai ketawa nggak jelas sendirian.

Teringat dulu ada seseorang yang pernah ngomong, "Aku tau kamu nggak sependiam ini. Ternyata kalau lewat tulisan bisa banyak ngomong nya juga." Dulu, i was like "???"
Dan setelah nemu sesuatu, ternyata itu orang pernah baca blog ini. Hahahaha

Yes, i'm an introvert person. Beneran susah ngobrol kalau di dunia nyata. Nggak banyak ngomong, apalagi curhat. Susah bergaul dengan orang atau lingkungan baru. Pokoknya serba tertutup lah.
Tapi sepertinya sekarang udah nggak separah dulu yang sampai sahabat-sahabat aku nggak jarang marah ke aku cuma karna aku yang paling nggak pernah cerita ke mereka. Padahal mereka seterbuka itu ke aku, semua diceritain. I'm just a good listener.

Sekarang aku udah bisa ngobrol bahkan sampai curhat tanpa disadari. Tapi aku selalu pastikan dulu mereka orang-orang yang bisa aku percaya. Bahkan udah sejarang itu aku curhat di blog sampai ini blog udah bersawang dan perlu dibersihkan. Hahaha

Btw, aku mau fokuskan blog ini cuma buat traveling blog. Paling sesekali post di luar itu. Karna aku masih punya 2 wadah lagi kok buat nampung cerita. Kalau cuma pengen ngomong singkat ada twitter, ngomong banyak ada tumblr.

Tapi ya ntah kapan bisa ngblog nya lagi. Karna foto tentang travelingnya ada di HD Ekstrernal, belum pilih fotonya, belum editnya. Akhirnya kelamaan dan suntuk sendiri dan berakhir di draft. Hahaha

Ya, semoga konsistern lagi. Pengennya sih gitu.

Oiya, berhubung pandemi covid19 ini ntah kapan berakhirnya. Semacam nggak keliatan ujungnya di mana :( 
Stay safe, stay healthy all
^.^

Selasa, 28 November 2017

EXPLORE TOBA DAY 3 (Enjoying Samosir)

Di hari ke tiga, kami lebih milih buat nyantai. Nggak terlalu mikirin destinasi. Karna udah kecapean di dua hari sebelumnya. So, pagi-pagi lebih milih nyantai naik sepeda yang disewa di hotel tempat kami nginap dan keliling sekitar Tuk-tuk aja. So, here we are...




Puas sepedaan, lanjut cari makan. Beli nasi bungkus, makannya di taman hotel


Kenyang makan, lanjut foto-fotoooo..



Berhubung udah siang, selanjutnya langsung bersih-bersih karna kami ambil penyebrangan dengan kapal fery yang sore. Jadi sebelum nyebrang bisa keliling Tomok dulu sebentar



Dan langsung cus pelabuhan buat balik ke Medan. Rencana sih memang mau pulang balik ke Medan. Rencana sih gituuu.. Tapi tiba-tiba kepikiran rencana lain. Hahahhaa..

Daaan.. bersambung ke postingan selanjutnya yaaaa :)

EXPLORE TOBA DAY 2 (Air Terjun Efrata & Aek Sipitu Dai)

Hari ke dua ini dimulai buat nyinggah ke Air Terjun Efrata. Sama seperti sebelumya, kami semua belum ada yang pernah ke sini. So, yang bisa diandalkan cuma G-maps, peta Pulau Samosir yang sebelumnya udah didownload, dan pastinya nanya ke penduduk sekitar kalau kira-kira nyasar. Untuk menuju ke Air Terjun Efrata ini juga nggak gampang. Jalanan yang nggak mulus, most of all adalah batu, bukan aspal. Penunjuk jalan juga belum ada saat itu. Mungkin sekarang udah ada karna namanya juga udah mulai dikenal.

Karna jalan yang dilalui juga semakin nggak nyantai, akhirnya atas saran penduduk sekitar, mobil yang kami bawa pun dititipin di salah satu rumah penduduk, dan sisanya dilanjutin dengan jalan kaki sekitar 15-20 menitan. Cuaca juga tiba-tiba kurang bersahabat. Yap, hujan!! Neduh sebentar di sebuah kedai sambil beli beras dan telur untuk makan siang kami. Jalan kaki pun dilanjutkan. Tapi berhubung hujan semakin deras, kami mutusin buat makan siang dulu (baca: masak dulu) di kedai dekat jalan masuk ke air terjun. Dan beginilah makan siang kamiiii

Nasi merah plus telur rebus. Sederhana tapi ngangenin

Kenyang makan, ditambah hujan yang juga ikutan reda, kami pun langsung turun ke bawah menuju air terjunnya. Kondisinya saat itu bisa dibilang sangat-sangat alami. Dan kembali merasa sangat kecil kalau dibandingin air terjun setinggi ini.


Puas menikmati indahnya Air Terjun Efrata, kami pun melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, Aek Sipitu Dai. Salah satu objek wisata yang harusnya jadi salah satu andalan wisata Pulau Samosir, tapi sangat disayangkan kondisinya sangat mengecewakan untuk kami saat itu. Dari luar kelihatan nggak terawat, agak kotor. Di dalam nya juga malah dijadikan tempat untuk mencuci baju oleh penduduk sekitar. Padahal bisa jadi sesuatu yang menarik kalau saja bisa lebih terawat, ditambah lagi dengan cerita rakyatnya. Tapi berhubung udah nyampek, kita nikmati sajalah :)

Aek Sipitu Dai katanya punya 7 rasa. Setelah dirasa, saya pribadi cuma bisa ngerasa manis dan tawar aja, agak sepat-sepat gitu, berasa minum air soda, tapi lama-lama agak berasa lengket di mulut. Teman-teman yang lain juga ngerasa sama. Oiya, di sini pancurannya dipisah untuk laki-laki dan perempuannya. Tapi kayaknya rasanya sama aja sih


Kurang tau gimana kondisi objek wisata ini sekarang. Agak sayang sebenarnya kalau nggak dirawat. Karna sejujurnya dari semua objek wisata Pulau Samosir yang udah saya datangi, Aek Sipitu Dai ini yang paling mengecewakan. Beberapa objek wisata lain masih sering saya datangi ulang setiap ke Samosir. Tapi ntah kenapa nggak untuk objek wisata ini. Tapi ya semoga semakin bagus dan udah semakin terawat. Kembali lagi, saya ke sininya tahun 2014. Jadi ya harapannya semoga sekarang udah jauh lebih baik :)

Jumat, 10 Februari 2017

EXPLORE TOBA DAY 1 (Medan-Dairi-Pangururan)

“ Yang terlalu direncanakan itu biasanya nggak jadi. Yang tiba-tiba direncanakan malah jadi.”

Ntah kenapa sering kejadian begitu. Sama kayak cerita kali ini, Explore Toba. Sebelum aku cerita, mau infoin dulu, kalo ini perjalanannya udah 3 tahun yang lalu. Tapi karena satu dan lain hal, baru sempat selesai sekarang postingannya. Jadi, jalan, tempat wisata dan fasilitas yang dikunjungi selama trip ini pasti udah banyak berubah, kebanyakan sih berubah jadi lebih cantik. So, let's check it out ;)

-------------

Nggak pernah benar-benar ngerencanain ini, tapi ya kejadian. Perencanaan? Cuma 1 hari ajaaa.. Nah, kebetulan tanggal 17 Februari 2014 lalu, 2 hari sebelum berencana mau Explore Toba, kami (Aku, Rizka, Ajok, Dira, Vina) ke Kabanjahe buat ngantar bantuan untuk pengungsi dari bencana Gunung Sinabung yang sampai sekarang belum reda juga erupsinya. Dan karena sesuatu dan lain hal, kami diharuskan balik ke sana lagi 2 hari kemudian. Dan tiba-tiba tercetuslah ide buat langsung ngetrip ke Prapat, tepatnya explore Toba.

Perencanaan yang express bukan berarti persiapan kami pun express. Aku sempat download peta wisata Samosir dan buat list apa aja yang ada di sana. Dira bahkan sampek udah bawa persiapan masak, kompor gas mini, lengkap sama panci mini nya. Kalo nggak salah nyebut nya nesting ya (?) Kami juga sempat beli mie instan, beras, telur, bumbu masak, kecap, saos di perjalanan. Seru kalo diingat.

Perjalanan dimulai dari Kabanjahe habis nyelesain tugas ngantar bantuan buat Sinabung. Oiya, Alhamdulillah waktu itu kami dapat oleh-oleh jeruk segar langsung dari kebun punya salah satu penduduk di sana. Dan banyaknya nggak tanggung-tanggung.

Trip pun dimulai. Kami ambil jalan lewat Pangururan supaya bisa liat sunrise di Menara Pandang Tele. Pas lewat Sidikalang, kami juga sempat nyinggah di Air Terjun Lae Pendaroh, letaknya persis di pinggir jalan. Nggak bisa buat mandi-mandi sih, cuma bisa untuk foto-foto. Sayangnya untuk foto di situ aja diwajibkan bayar per orang.



Oke, perjalanan pun dilanjutkan karna emang udah sore juga. Nggak mau juga malam-malam terjebak di jalanan yang dikelilingi hutan gelap. Tambah lagi kami juga nggak tau jalanan sekitar situ, hanya mengandalkan peta. Sebelum jalan lebih jauh, kami sempat nyinggah ke Ind*mar*t buat beli persediaan makanan. Takutnya kalo udah masuk lebih jauh, agak susah nemuin mini market yang juga jual gas mini (*ceritanya kan kami bawa kompor mini, jadi perlu beli gas nya :P).

Lanjut jalan menuju Menara Pandang Tele. Jadi ceritanya waktu itu kami belum ada yang pernah ke sana, jadi entah gimana ceritanya kami nggak nemu itu tempat. Mungkin karna udah malam juga, jadi nggak pala keliatan tempatnya, ditambah lagi nggak ada penunjuk jalan sama sekali buat ke sana. Dan ternyata kami udah beberapa kali bolak-balik ngelewatin Menara Tele nya. Nyadarnya waktu berhenti istirahat buat makan malam di salah satu warung. Sambil makan, sambil nanya ke Bapak Ibu yang punya warung di mana lokasi persisnya.

Selesai makan, perjalanan dilanjut ke Menara Tele dan Alhamdulillah nggak pakai lama udah nyampek. Ternyata letaknya persis di pinggir jalan dan pas di tikungan. Karna udah malam dan rencana ke sini juga karna pengen liat sunrise, jadilah kami nginap di sini satu malam. Nggak ada penginapan, tapi ada kayak pondok kecil gitu kalau mau istirahat, dan kalau tahan sama udara dinginnya ya. Kami yang cewek tidur di mobil, yang cowok di pondok pake jaket plus sleeping bag.

Paginya langsung naik ke menara buat liat sunrise. Tapi sayangnya pagi itu terlalu berkabut, jadi nggak keliatan mataharinya.


Menara Pandang Tele [2014]

Setelah agak terangan, kami pun mutusin buat sarapan, masak sendiri, masak air untuk buat popmie. Hahahaa..


Abis sarapan langsung foto-foto dan cus lanjut jalan.

Minggu, 25 September 2016

TIME MACHINE

Feels like in a time machine.

Saat “kita” belum berubah menjadi “aku, kamu, dia dan mereka” seperti sekarang.
Saat kita masih saling bertanya kabar, bercerita satu sama lain, tertawa atas kebodohan masing-masing, berjalan bersama, berbicara tentang masa depan.

I want to stay at that time.
Mungkin lebih tepatnya “stay with you all”.

Tapi ini sekarang, aku sudah kembali di sini, ke saat ini. Aku bahkan udah lupa alasan kenapa kita jadi begini. Karna sebenarnya itu sama sekali bukan hal yang besar.

Ya, mungkin ego kita masing-masing yang lebih besar. Dan mungkin kalian cuma pengen jadiin “kita” sebagai masa lalu.

Hahahaha..
Aku bahkan masih menggunakan kata “mungkin”. Kemungkinan. Bisa jadi benar, tapi masih ada harapan kalau itu salah. Ah, bahkan aku masih berharap.

Satu hal yang pasti, don’t expect something too much.

Boleh berharap, tapi jangan terlalu banyak. Apalagi kalau berharapnya sama manusia. Kalau nggak kesampaian, jatuhnya sakiit..

Udah ah, ujung- ujungnya baper.

Selamat tengah malam menjelang pagii ☺

Minggu, 11 Oktober 2015

KAWASAN EKOWISATA BUKIT LAWANG

Maret tahun 2014 lalu, aku bareng 3 orang teman yang semuanya cewek-cewek mutusin buat liburan ke Bukit Lawang. Tadinya sih rencana nggak mau nginap, pengennya jalan-jalan aja sambil mandi-mandi sungai gitu. Akhirnya rencana tinggal rencana, berhubung satu-satunya yang bisa bawa mobil kecapean dan udah kesorean mau pulang, jadilah kami nginap semalam di sini. Tambah lagi karna ditawari buat trekking ke hutan ngeliat orang hutan dan monyet-monyet yang dilindungi sambil kasi makan.


Penginapan yang dipilih itu Wisma Sibayak Bukit Lawang. Letaknya strategis sih, pas di depan sungai, nggak gitu jauh dari tempat parkir, cuma nyebrang jembatan sekali. Kamarnya besar, bisa 4 orang sekamar. Penginapannya juga punya resto sendiri, pilihan makanannya juga banyak, mulai dari menu ala Indonesia atau pun ala bule. Harga nya juga masih ramah di kantong. Menu favorit aku pribadi itu ifumie goreng sama buah-buah segarnya.



Pemilik dan guide-guide di sini juga ramah-ramah, mau gabung cerita-cerita, ngiringi makan sambil dimainin gitar, trus main kartu sampek ngantuk. Paginya langsung sarapan dan siap-siap trekking. Trekking sih trekking, lipstik harus ON. Hahaha..


Ditemenin sama Ricky dan Bang Uncu, trekking pun dimulai. Baru beberapa menit jalan kita langsung jumpa ular. Ular kecil siih.. tapi ya namanya ular tetap aja ngeri liatnya. Lanjut jalan, nggak lama nyampek di gerbang masuk ke Hutan Leuser.


Hanya selang beberapa menit, kita udah langsung bisa ngeliat beberapa monyet kecil bergelantungan dari pohon ke pohon, ada juga orang utan yang lumayan gede.



Agak waw bisa ngeliat orang utan langsung di habitat aslinya kayak begini. Selama ini kalau pun ngeliat ya di kebun binatang, buku atau TV. Nah ini, langsung!! Ngeliat sarang mereka di atas pohon, gimana interaksi mereka sama pengunjung. Walaupun keren, tapi ya tetap harus waspada juga. Namanya juga hewan yang hidup di habitat aslinya, bisa dikatakan hewan liar. Beberapa mungkin masih dalam kategori aman, tapi ya ada juga yang usil dan ngeri. Salah satunya Ucok Baba. Ini bukan nama orang, tapi nama salah satu orang utan yang tinggal di kawasan ini. Dia nya sempat menghalangi jalan kita dan ngejar juga, mungkin karna dia sempat ngeliat pisang yang dibawa sama guide kami. Sempat takut karna dikejar si Ucok Baba, alhamdulillah berakhir dengan aman karna Uncu ngasi beberapa buah pisang supaya dia mau berhenti ngejar dan ngasi kami jalan.

Kata ranger nya, orang utan yang paling ngeri itu ada 2 ekor di sini, Ucok Baba dan Mina. Tapi katanya yang lebih jahat itu Mina. Walaupun dia betina, tapi ya mungkin dia ibarat ketua gank nya yaa.. Jumpa Ucok Baba aja udah jantungan, apalagi jumpa si Mina. Jadi buat yang mau trekking, jangan sok-sok an jalan sendiri lah. Bawa guide yang emang ngerti kawasan itu wajib hukumnya buat ngehindari hal-hal yang nggak diinginkan. Safety First !!




Puas trekking, lanjut mandi-mandi di sungaaaai.. Segeeeer.. Airnya jernih, udaranya juga masih bersih. Seru lah.. Sebenarnya lebih seru lagi kalo bisa tubbing abis trekking, karna nggak cocok harga kemarin, jadi ya pulangnya jalan kaki. Tapi ya tetap ada cerita.


Sepanjang jalan balik ke penginapan, beberapa kali ngeliat bule. Ya, di sini emang kebanyakan bule sih pengunjungnya. Kalaupun ada orang kita yang ke sini, biasanya pulang hari dan cuma sekedar buat piknik, mandi-mandi di sungai. Sangat jarang ada yang mau trekking liat orang utan. Mungkin karna buat kita udah biasa ngeliat monyet atau orang utan di Indonesia. Tapi nggak buat bule-bule itu.


Iyes, Indonesia merupakan rumah terbesar bagi Orang Utan. Dan karna populasinya juga semakin berkurang karna habitatnya mulai terganggu oleh kita juga sebagai manusia, jadi ya keberadaanya sendiri sangat dilindungi. Yuk jaga hutan kita. Kalau hutan sebagai habitat mereka aman, kita juga bakalan aman pastinya. Toh kita juga pasti saling bergantung kan.. 

Rabu, 29 Juli 2015

TAMAN WISATA IMAN SITINJO, KAB. DAIRI, SUMUT




Tempat ini merupakan salah satu tempat wisata berbasis religi yang terletak di Perbukitan sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Jadi, di tempat ini kita nggak hanya bisa berwisata, tapi juga beribadah, wisata religi gitu lah istilahnya. Di taman seluas 13 hektar ini terdapat beberapa lokasi yang menjadi simbol dari 4 agama berbeda, yaitu Islam, Kristen, Budha dan Hindu.

Karena kebetulan waktu itu perginya bareng sama ibu-ibu pengajian, jadi nggak sempat keliling ke semua lokasi. Di kawasan untuk agama Islam sendiri ada miniatur Ka’Bah beserta lapangan untuk manasik haji dan sebuah Mesjid yang sayangnya kurang terawat. Di beberapa bagian Mesjidnya masih keliatan retak-retak di dinding akibat gempa Aceh dan Nias tahun 2004 dan 2005.



Walau begitu pemandangan di sekitar sangat-sangat indah. Mungkin karna letaknya juga di daerah perbukitan. Pagi sehabis Subuh masih kelihatan kumpulan awan di sekitar bukit sambil ngeliat pemandangan kota Sidikalang di bawah.



Mungkin lain kali kalau dikasi kesempatan dan waktu yang banyak buat ke sini lagi bisa keliling ke semua lokasinya. Lumayan luas juga sih tempatnya. Banyak juga rombongan yang datang pake bus pariwisata gitu. Lebih dan kurang, karena keunikannya, tempat ini recommended la buat disinggahi kalau kebetulan lewat daerah Dairi.

Minggu, 26 Juli 2015

FIRST POST AFTER LONG HIATUS

Waaaah.. Udah sangat lama nggak nge-blog dan sekarang hampir lupa gimana caranya nge-post. By the way, ini blog masih ada yang baca nggak ya? Hahaha..

Sebenarnya niatan pengen buat postingan baru itu sering datang. Pengen berbagi cerita tentang tempat-tempat wisata yang udah dikunjungin, pengen nge-review buku yang baru dibaca, pengen curhat juga nggak peduli ada yang baca atau nggak. Tapi ya gitu, niat cuma tinggal niat. Tiba-tiba gagal waktu udah di depan laptop. Terkadang juga gagal karna sadar belum mindahin dan edit foto yang mau diposting.

Nggak tau gimana caranya supaya bisa konsisten sama ngeblog. Dulu aku sempat punya cita-cita pengen jadi travel writer atau travel blogger, intinya sih nulis. Udah banyak beli buku tentang gimana caranya menghasilkan tulisan yang bagus, menarik buat dibaca. Tapi ya gituuuu.. Setengah dari jumlah halaman di buku aja belum tentu selesai. Keliatannya butuh motivator ini -___-

Mmmmm.. oke, mulai bingung mau ngetik apa lagi. Zzzzzzz..

Kan kan kaaan.. binguung..

Oiya, selagi masih dalam suasana lebaran, mohon maaf lahir batin ya kalo ada salah kata. Manatau pernah ada postingin yang pernah buat sakit hati. Semoga kita semua bisa ketemu lagi sama Ramadhan selanjutnya. Aamiiiin

Baiklah, keliatannya harus disudahi dulu. Lebih dan kurang mohon maaf. Assalamu'alaikuuuum :)

Jumat, 07 November 2014

RANDOM POST (AGAIN)

Hai haiii.. Lagi pengen nge-post, tapi pengennya yang random-random aja, ngikutin suasana hati.

Hari inii.. ya hari inii.. hari inii.. Zzzzzz.. Tiba-tiba bingung mau cerita apa.

Hari ini mood lagi nggak beres. Kalo lagi gini pengennya ngerem aja di kamar biar nggak ada yang jadi korban pelampiasan. Pretending to be Ok is hard, right?

Jujur lagi kangen. Kangen sama beberapa orang yang dulu sering ketemu, yang sekarang ntah di mana dan ntah kenapa jadi begitu. Sedih kalo liat foto-foto lagi bareng mereka-mereka itu. Kalo mereka semua masih ngumpul, pengennya sih cerita ke mereka apa yang sekarang lagi aku kerjain. Ya saling cerita sih intinya. Kangen menggila, kangen jalan-jalan, kulineran bareng. Intinya kangen. Pengen bisa ngumpul lagi. Titik. Udah gitu aja.

Rabu, 23 April 2014

TRIP PULAU BANYAK

Akhirnya, nggak cuma bisa ngences kalo baca artikel tentang Pulau Banyak, beberapa bulan yang lalu berhasil juga nginjakkan kaki di sini bareng Sari, Rizka, Bang Faisal, Bang Foni, Bang Ainul, dan Bang Izhari.

Selasa / 13 Agustus 2013

Berangkat dari Medan jam 10 malam naik taxi (*bukan taxi express apalagi burung biru), dan subuh udah nyampek di Aceh Singkil.

Rabu / 14 Agustus 2013

Sambil nunggu kapal yang berangkat jam 10, masih sempat cari sarapan sambil keliling ngeliat sisa-sisa dari Tsunami Aceh tahun 2004. Beberapa bangunan emang udah nggak bisa digunakan lagi karena rusak parah dan memang nggak memungkinkan untuk digunakan lagi. Lanjut jalan kaki ke pinggir pantai buat istirahat sebentar. Ngumpulin nyawa sambil dengar suara ombak yang seakan mengucapkan "Selamat Datang". Letaknya nggak jauh dari jembatan pelabuhan kapal kecil.

Jam 10 kurang balik lagi ke pelabuhan dan berangkaaaat \^^/ Oiya, nyebrang dari Aceh Singkil ke Pulau Banyak ini sekitar 3-4 jam. Bagi yang sering mabuk, disarankan minum antimo. Aku yang alhamdulillah nggak pernah mabuk darat, laut atau udara aja sempat ngerasa mual. Tapi kayaknya sih karna pengaruh supir taxi yang dari Medan nya juga, kencangnya berasa kayak nggak bawa penumpang dan begitu nyampek Singkil, dengan santainya si Bapak bilang, “Aman kan? Nggak ada yang mabuk kelen kan?” Padahal yang di belakang udah sampek muntah -__-

Pelabuhan Singkil
(Pic by: Bang Faisal)

Baru berangkat dari pelabuhan Singkil udah langsung ngeliat sisa-sisa Tsunami lagi. Beberapa rumah, sekolah dan kilang minyak tenggelam karna besarnya Tsunami. Nggak kebayang, seberapa banyak, deras dan kuatnya air yang menghantam daratan sampek bisa tenggelam sedalam itu.

Sekolah dan Kilang Minyak yg tenggelam karna Tsunami
(Pic by: Bang Faisal)


Tiga jam selanjutnya dihabiskan buat tidur sampek puas. Bangun tidur ternyata belum nyampek juga, tapi ya hampir nyampek laa.. Pemandangan yang waaaw.. Pulau-pulau kecil berjejer, air laut yang biru jernih, paket lengkap buat yang namanya liburan. Kenapa namanya Pulau Banyak? Karna memang terlalu banyak pulau di sini. Mulai dari yang lumayan besar untuk ditinggali, sampek yang benar-benar nggak bisa ditinggali karna memang kecil. Mungkin beberapa tahun lagi pulau-pulau kecil ini bakal tenggelam :(

Salah satu pulau kecil tak berpenghuni dari sekian puluh pulau yang ada di Pulau Banyak

Nyampek di kepulauan Banyak, kapal berlabuh di Pulau Balai, mungkin kalo diibaratkan, pulau Balai ini tuh pusat kotanya. Banyak penduduk yang tinggal di sini, ada sekolah dan puskesmas juga. Namanya juga dikelilingi laut, cuacanya juga nggak bisa dibilang biasa. Sambil nunggu kapal yang bisa bawa kami nyebrang ke Pulau Palambak, sempat istirahat sambil makan siang di salah satu warung makan nggak jauh dari pelabuhannya dan belanja logistik untuk di pulau lain. Penduduknya ramah-ramah, mau juga ngasi usul/saran bagusnya ke pulau mana aja dan ngapain aja. Setelah lumayan lama nunggu, Pak Mali sang empunya kapal pun datang dan berangkat ke Pulau Palambak. Dan ternyata kapalnya nggak sebesar kapal waktu nyebrang dari Singkil, sampan yang cuma muat 8 orang sama supir dan untungnya pake mesin boat, bukan dayung. Hahaha..

Menuju Pulau Palambak
(Pic by: Bang Faisal)

Walau sempat takut tenggelam karna nggak bisa berenang dan nggak pake pelampung, tapi mencoba tenang sambil ngeliatin laut dan langit biru plus pemandangan pulau-pulau sekitar yang nggak pernah buat bosan. Sekitar 1,5 jam kemudian, akhirnya nyampek di Pulau Palambak. Karna udah sore, kami langsung chek in di satu-satunya penginapan di sini. Harga penginapannya 100rbu/orang, bukan per bungalow, udah include makan malam dan sarapan. Termasuk mahal memang kalo cuma liat dari bentuk bungalow dan fasilitasnya. Ditambah lagi pengelola yang bisa dibilang nggak ramah sama tamu, kesannya kayak nganggap rendah. Seharusnya tamu dari negara sendiri itu ya lebih dibuat nyaman dan betah la. Siapa lagi yang bakal cerita ke orang lain, bahkan ke dunia tentang keindahan pulau banyak kalo bukan penduduk lokal?

Satu-satunya penginapan di Pulau Palambak
(Photo by: Bang Izhari)

Jujur awalnya pengen nginap di pulau ini 2 malam terus keliling pulau-pulau lain, tapi karna service nya nggak bagus, niatnya mau pindah pulau besok pagi, bahkan kalo bisa malam itu juga. Tapi ya daripada mood makin berantakan, kami main di pinggir pantai sambil nunggu sunset.

Duduk Cantik di Pinggir Pantai
(Pic by: Bang Izhari)


Trus bersih-bersih, makan malam, cerita-cerita dan tidur.

Kamis / 15 Agustus 2013

Paginya, rencana pengen nginap di Pulau Tailana, salah satu pengelolanya Pak Mali yang memang baik dan ramah. Tapi mungkin hari itu kami kurang beruntung. Bungalow di Pulau Tailana full dan karna kami juga nggak ada bawa tenda, nggak memungkinkan untuk nyebrang hari itu juga. Patah hati karna nggak bisa pindah pulau, sempat terpikir balik ke Singkil aja, trus ke Banda Aceh. Tapi lebih ngerasa sayang, udah jauh-jauh ke sini, tapi nggak puas keliling. Dan akhirnya diputuskan nginap satu malam dulu di Pulau Balai. Toh pulau ini juga belum dikelilingi. Kami nginap di Penginapan Lae Kombih. Kebetulan penginapan ini satu paket dengan rumah makan yang jadi tempat mangkal setiap singgah di Pulau Balai. Letak penginapan nya sekitar 15-20 meter dari dermaga dan penginapan pertama yang dijumpai di sebelah kanan kalau jalan dari dermaga. Penginapan di sini sangat-sangat murah, 30ribu/kamar. Fasilitas juga lumayan lengkap, ada kamar mandi yang bersih, musola, kamarnya juga udah pake kipas angin. Jauh lebih nyaman daripada di pulau sebelumnya.

Homestay Lae Kombih
Penginapan & Rumah Makan
HP: 085296895929

Menjelang sore, kami keliling pulau, main ke pinggir pantainya sambil nunggu sunset. Ada yang langsung nyebur, hunting foto, dan foto-foto. Hahaha..



Sunset Time

Trus balik ke penginapan, keliling cari makan malam, dan tidur.

Jumat / 16 Agustus 2013

Paginya, langsung beres-beres dan cus nyebrang ke Pulau Tailana.


Beda kapal, satu tujuan

Nyampek di sana, langsung ceck-in. Bungalow nya memang nggak sebagus di Pulau pertama, tapi juga nggak jelek, ditambah lagi sama keramahan pengelolanya buat kami betah. Mereka ngijinin pake dapurnya kalo mau masak sendiri, bebas mau ngapain aja sambil keliling pulau. Bebas? Iya bebas. Pulau berasa milik sendiri.


Pulau Tailana

Abis check-in langsung main di pantaaaai

Kayak yg di wallpaper laptop itu kaaan? Aseli warnanya begini :P
(Pic by: Bang Ainul)



We're just having fuuun

Perut mulai demo dan masak sendiri dimulai, walau cuma masak nasi pake indomie, tapi yang penting pengalamannya. Masaknya pake kompor kecil dan manfaatin kayu dari alam. Primitif? Nope, it’s creative :P


Selesai makan, nyantai lagi dooong..


Puas main di pantai, gantian bersih-bersih. Trus lanjut keliling pulau, masuk hutan kecil, trus mengejar sunset.


Dari semua foto, cuma 2 foto yang isinya personil lengkap. Hahaha..

(kiri-kanan) Bang Faisal, Sari, Rizka, Bang Izhari, Bang Foni, Sovi, Bang Ainul

What a holiday :)

Oiya, air di sini sangat-sangat terbatas, jadi sebisa mungkin hemat air. Mau itu air buat mandi, apalagi air buat minum. Di kantinnya nggak ada jual aqua botol, apalagi galon. Malamnya langsung masak indomie (*lagi) dan bakar ikan yang kami beli dari nelayan yang abis ngelaut dan lewat di pulau ini.

Sabtu / 17 Agustus 2013

Karena stok makanan udah abis, kami cuma bisa ngopi dan ngapucino sambil nunggu Pak Mali jeput buat balik ke Pulau Balai.

This is it, Mr. Mali, a kindly person we've meet during Pulau Banyak Trip :)

Nggak puas rasanya karna nggak bisa keliling pulau-pulau lain :( Selesai beres-beres langsung berangkat ke Pulau Balai karna takut ketinggalan kapal buat balik ke Aceh Singkil. Dan untungnya begitu kami nyampek, kapal yang mau berangkat ke Singkil belum berangkat dan lagi siap-siap mau berangkat. Karna memang belum sarapan, alhamdulillah masih sempat beli roti buat di jalan nanti.

Siang menjelang sore pun akhirnya nyampek di Aceh Singkil walau pake tragedi mati mesin kapal di tengah laut. Tempat pertama yang dituju apalagi kalo bukan rumah makan. Sore menjelang malam,begitu taxi jemputan nyampek, langsung berangkat balik ke Medan.